Terbatas => Tidak Terbatas
Assalamu’alaikum
Wr Wb.
Yee. Ane
buat blog baru (lagi). Yang sudah-sudah, Males ngurusnya + Lupa kata sandi
googlenya. Semoga Kolong Meja ini ndak mengikuti jejak para
pendahulunya.Amiin.. Al Fatihah..
Kolong Meja?
Apa sih? Kok kolong meja? Ane tau ente ente pasti bertanya begitu. Apakah ente
ente ingin tau? Apa arti nama tersebut? Apakah kamu melihat gunung? Dimana?
Sekali lagi? Yaa… Kamu benar. Itu ada gunung...
Ente kira
ane D*ra yang menderita gangguan telinga itu.
Ente tau,
kolong meja itu tempat yang nyaman lho. Cobalah masukin kepala ente ke kolong
meja, atau kalo mejanya gede, ente bisa tiduran di sono.Gimana, Pasti dikira
kurang kerjaan ama orang lain, kan? Kolong meja juga tempat persembunyian yang
aman saat petak umpet. Benda - benda yang rentan hilang sepert gunting, pena,
pensil, dll sering ditemukan di bawah meja. Intinya, ane berpendapat kalo
kolong meja itu tempat yang amazing, tapi sering ndak dihiraukan orang.
Di Kamar
Kost ane, ane biasa nyimpen file file dan buku-buku kuliah di kolong meja. Ya,
bukan di gunung. Ente tau, entah kenapa kok file- file tersebut cepat sekali
berdebu dan sawangan (gugling kalo ndak tau). Ane ndak faham biologisnya kenapa
bisa begitu, tapi ane jadi berfikir, kolong meja ane ini mirip fikiran
ane.Berantakan, sawangan, berdebu, tapi ketika dibersihkan, kita akan menemukan
file file penting, barang yang hilang, bahkan pacar yang hilang.
Penampakan
Kolong Meja ane
Begitulah,
jadi blog ini adalah isi fikiran ane, yang akan berdebu, sawangan, dan jadi
sarang Jerry jika ndak di keluarkan dan dibersihkan. Tapi karena jarang ane
rapi dan bersihkan, ya kondisinya seringkali berantakan dan berdebu, jadi ane
coba untuk mengeluarkan, menuangkan, mengalirkan, menumpahkan, me….<ah
kebanyakan> Menuliskan isi fikiran ane di sini, agar fikiran ane tidak
sawangan seperti kolong meja kost-an ane.
Jelas?
So, itulah
filosofi di balik nama blog ini. Sebenarnya penjelasan panjang-panjang itu
ngarang. Nama kolong meja ini cuma iseng doang, terlintas gitu aja.
Ahahaha.
Anyway, di awal kebangkitan semangat ngeblog ane, ane ingin mulai dari kamar ane dulu. Tadi sudah ane sebutkan, ane ngekost. Pilihan mahasiswa rantauan yang tidak cukup biaya untuk pp maupun membeli rumah sendiri, dan tidak punya saudara yang rumahnya dekat dengan kampus.
Kebanyakan
orang pasti sudah tahu bagaimana sikon kost-kostan pada umumnya. Tinggal
rame-rame, makan bareng, mandi bareng, tempat sempit dan seadanya, makan
seadanya, uang tergantung kiriman , pokoknya serba terbatas.
Oke, soal mandi bareng, ane bercanda. Jangan mikir yang aneh-aneh.
Namun, kondisi seperti itulah, yang mungkin membentuk sebuah “ pola fikir ” baru. Dimana di saat segala serba terbatas, namun kebutuhan tidak bisa dibatasi, maka otak dituntut untuk berfikir “ bagaimana ”.
Maka,
sebagian besar anak kost cenderung berfikir praktis, mencari yang instan.
Contoh dalam makanan, anak kost ndak bisa dipisahkan dengan Rendang, Kari Ayam,
Ayam Goreng, Soto,Pecel, Sate, yang kesemuanya merupakan varian rasa Mie Instan.
Ya, Mie. Si keriting yang cara membuatnya sangat mudah dan cepat. Namun sayang, kandungan gizi nya pun instan. Maka tak jarang anak kost yang terlalu sering mengkonsumsi si keriting ini, Jatuh sakit. Yang mainstream sih, tipes.
Ya, Mie. Si keriting yang cara membuatnya sangat mudah dan cepat. Namun sayang, kandungan gizi nya pun instan. Maka tak jarang anak kost yang terlalu sering mengkonsumsi si keriting ini, Jatuh sakit. Yang mainstream sih, tipes.
Dari segi keuangan. Anak kos biasanya mengandalkan pemasukan bulanan, yang setiap awal bulan dikirim uang dari orang tua. Nah disinilah intinya yang ingin ane bicarakan. Dengan kondisi keuangan seperti itu, anak kost dituntut untuk benar-benar memanajemen keuangannya, Yang sayangnya, banyak yang tidak berhasil, seperti contoh ini.
Itu
merupakan salah satu contoh manajemen keuangan yang gagal. Seharusnya anak kost
bisa berfikir bagaimana mengeluarkan uang yang tepat, agar bisa bertahan sampai
bulan berikutnya.
Wah, udah
bisa ngomong gitu, berarti keuangan ane sendiri lancar dong. Hebat… Plok Plok
Plok.
Iya dong,
liat aja dompet ane.
Eeeh?
Maaakk….Duek
ku entek…. Aku luwee maaak :’(
Mungkin karena belum berfikir dewasa mungkin ya, yang namanya menghemat itu susah sekali. Disaat ada uang, bawaannya ingin menghabiskan saja, terutama saat melihat Ind***ret, bawaannya pengen masuk aja, Kentang lah, Roti lah, semua ingin dibeli. Ketika pulang ke kosan, langsung jatuh terduduk, mengadahkan tangan keatas sambil bergumam lirih “ Mengapaa….”
Namun, seperti
yang ane katakan diatas, kami dituntut untuk berfikir “ bagaimana ” dan berfikir praktis. Ini
merupakan kisah nyata 2 hal yang ane alami sebagai anak kost :
1
Memasak air menggunakan setrikaan.
Awal semester baru, temen kosan ane yang punya kompor pindah
ke kosan lain. Menurut ane sih, kayaknya ndak betah dengan kelakuan ane yang
suka teriak-teriak sambil gitaran di kamar,ndak pake baju lagi. Padahal dia
ndak tau itu ane sedang konser solo.
Ane merupakan coffe addict, yang tidak bisa memulai hari
tanpa secangkir kopi (tsaaah). Nah, di awal semester baru ini, beberapa hari
ane tidak bisa minum kopi, karena tidak bisa masak air, karena tidak ada kompor.
Ribet amet sih.
Lidah mulai terasa pahit, badan menggigil dan panas, bahkan
kejang kejang. Buset dah, ente kira sakau ?
Lalu ane mencoba segala cara agar bisa memasak air. Opsi
pertama sih mudah, minta air panas sama ibu kos. Tapi opsi ini tidak mungkin
ane laksanakan rutin setiap hari, Pasti ibu kos akan merasa terganggu. Ibu kos
terganggu, dia akan menggila. Lama lama bukan gelas ane yang diisi air panas,
tapi celana ane.
Opsi dua, memasak dengan cara tradisional, mengumpulkan kayu,
dan mendesain sedemikian rupa hingga bisa menaruh panci berisi air di atasnya.
Tapi entah kenapa, kok susah sekali. Apinya ndak idup-idup. Kayu kota sama kayu
desa beda kali ya? Ane di desa gampang banget kalo mau bakar-bakaran. Kok di
sini kayaknya susah amat. Kayu kota ni harga dirinya tinggi mungkin, Sehingga
ia tidak akan membiarkan dirinya terbakar begitu saja.
Akhirnya, opsi terakhir. Gugling. Iya, ane gugling dengan
keyword “ cara memasak air tidak menggunakan kompor ”. Tapi, apa resultnya?
Bukan, itu bukan solusi. Hanya akan lebih menguras dompet ane
yang dari awal sudah kosong.
Lalu ane tambahkan keywordnya “ Anak kost”. Nah, disinilah
ane ketemu artikel yang menuliskan, jika setrika bisa untuk memasak air, bahkan memanggang
roti.
WE-O-WE. Wow. Hati ane langsung berteriak “ That’s it..!!!!
ini yang ane butuhkan !!
Ketentuan memasak air menggunakan setrika adalah :
1. Harus pakai gelas logam. Kalau pake
akua gelas, pasti lonyot.
2. Harus ada listrik. Iyalah. Mau nyolok
di idung ente?
3. Harus ada air.
4. Harus ada setrika.
5. Harus ada terminal untuk nyolokin
setrikaannya.
Ribet ? tentu saja. Ini adalah hal yang kompleks.
Beginilah desain infrastrukturnya :
Pertanyaan di benak ente-ente (bagi yang baru tahu cara ini)
:
- Apakah air akan matang?
Tentu. Tunggu aja nyampe ngeluarin uap tipis dan belebuk
belebuk dikit. Pokoknya kalo ente nyelupin jari ke dalem gelas, jari ente
lonyot, berarti udah mateng
- Apakah ada rasa setrikaan di airnya?
Hmm, entah. Tapi rasanya beda sama air rebusan biasa. Kayak
ada manis-manisnya gitu.
- Apakah air akan mendidih persis 100˚C
?
Ente anak kimia ya? Bodo amat mau berapa derajat mah. Yang
penting ane bisa ngopi.
2
Parfum mewah hanya dengan 1000 rupiah.
Ada tah? Ada. Parfum refill yang biasa dipinggir2 jalan,
paling murah refill 10 rb. Apalagi kalo beli di minimarket seperti ind***ret,
alf***ret, dan lain-lain. Apalagi parfum ekslusif yang bisa nyampe 300 ribu,
bahkan jutaan. Itu parfum dari keringetnya bidadari kali ya.
Buat ane, parfum ndak lebih dari sekedar untuk nutupin bau
badan. Iya, nutupin. Karena mustahil bau badan bisa dihilangkan. Kalo ada
produk tertentu yang bilang begitu, jangan percaya.
Seperti yang ane sebutkan, parfum relatif mahal, untuk anak
kosan. Tapi, berhubung badan ane (ehm) rada sedikit agak little bau, ane harus
make parfum. Meskipun menurut ane bau badan sendiri tu enak si. Ahahaha.
Kalo mau muntah, muntah aja.
Disaat ane nonton tipi, ane ngeliat iklan pengharum cucian,
yang katanya dibuat dari parfum kelas dunia, sebut saja robert dawney . Lalu
ane mikir, pasti harum dong? Kenapa ndak dijadiin parfum aja? Cuma 1000 lagi.
Jadi, ane langsung beli Robert dawney di warung sebelah. Lalu isinya ane tuangkan
ke botol parfum refill, jadilah begini.
Dijamin, ndak kalah dari parfum refill. Bukan promo lho ya. Hanya mempersempit pengeluaran dan memperlebar hasil. Ahahaha.
Begitulah,
sebenernya banyak lagi sih, Tapi 2 peristiwa tersebut yang paling berkesan.
Jadi anak kos tu enak bro, belajar mandiri, belajar bertanggung jawab ke diri
sendiri, Belajar manajemen waktu dan keuangan, dan membentuk pola fikir, dimana
keadaan yang terbatas, bisa membuka pemecahan masalah yang tidak terbatas.
Jangan
biarkan ketiadaan membatasimu….!!
Salam
super-man..!!
Wassalamu’alaikum
Wr Wb…
Mister Anu,
14:25 pm,
15 November 2015,
@ Pinggir embung IAIN Raden Intan Bandar Lampung, Lampung



Luar biasa gan !! Bisa jadi pencerahan ini buat ane -__-
BalasHapus